Minggu, 04 Mei 2014

KERANGKA PENULISAN



Artikel :

Pengaruh Layanan Pada Penjualan
Layanan atau service merupakan salah satu bagian penting dari perusahaan. Bahkan saking pentingnya, tidak sedikit perusahaan yang memberikan training kepada para karyawan bagian front liner mereka secara berkala untuk meningkatkan layanan kepada konsumen. Kita semua telah menyadari bahwa pengaruh layanan pada penjualan sangat luar biasa. Bahkan persaingan dengan competitor dalam hal harga bisa dimenangkan dengan layanan konsumen yang lebih memuaskan. Apalagi di era sekarang dimana konsumen telah berubah menjadi konsumen yang cerdas dan kritis. Faktor layanan menjadi hal yang sangat diutamakan.

Pengaruh layanan pada penjualan bisa dilihat dari besarnya tingkat penjualan. Bila pelayanan oke, maka secara otomatis nilai penjualan juga oke. Perusahaan yang memperhatikan layanan kepada pelanggannya dan tidak hanya berorientasi pada target pasti akan lebih banyak memiliki pelanggan. Sehingga tanpa disadari target penjualan akan terpenuhi tanpa harus melupakan pemberian layanan yang oke kepada para pelanggan. Dengan memandang pelanggan sebagai manusia yang memang harus dilayani, maka layanan yang kita berikan tidak hanya menyangkut nama perusahaan dan terkait dengan penjualan ataupun pembelian, namun secara tidak langsung kita telah memberikan sebuah kenyamanan kepada para pelanggan kita tersebut.

Pada dasarnya setiap pelanggan, baik itu dari kalangan ekonomi bawah sekalipun cenderung ingin dilayani. Dan layanan yang kita berikan akan menyenangkan untuk dilakukan bila kita melakukannya dengan jujur dan tulus. Ingat, tanpa pelanggan, kita bukan apa - apa. Dengan memiliki pelanggan yang loyal, usaha kita pasti bisa berjalan dengan lancar. Karena tanpa adanya pelanggan yang loyal, aktivitas usaha kita juga harus fokus mendapatkan pelanggan selain harus tetap fokus terhadap target penjualan.

Pengaruh layanan pada pejualan memang tidak bisa dipungkiri lagi. Tingginya kualitas layanan menunjukkan tingginya dedikasi sebuah perusahaan kepada masyarakat. Oleh karena itu, mengutamakan layanan merupakan sebuah keharusan bagi perusahaan yang ingin tetap eksis dalam persaingan bisnis yang semakin ketat saat ini. Besar, terkenal, dan murah saja tidak cukup untuk bisa 'mengikat' pelanggan tetap loyal terhadapa perusahaan kita. Namun bila ditambah dengan faktor layanan yang bagus maka tidak ada alasan lagi bagi para pelanggan untuk meninggalkan kita dan beralih ke kompetitor kita.


Kerangka

Tema : Kualitas Pelayanan
Tujuan : Mengetahui bagaimana cara meningkatkan kualitas pelayanan di perusahaan guna 
              mempengaruhi tingkat penjualan
Judul  : Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Penjualan

1. Pengertian
            1.1 Pengertian Pelayanan
            1.2 Pengertian Kualitas Pelayanan
            1.3 Pengertian Penjualan
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kualitas pelayanan
            2.1  lima dimensi kualitas pelayanan :
                        a. tampilan fisik (tangible)
                        b. tingkat reliabilitas (reliability)
                        c. daya tanggap (responsiveness)
                        d. empati (empathy)
                        e. assurance (jaminan)
3. Manfaat dari peningkatan kualitas pelayanan tehadap tingkat penjualan
            3.1  Peningkatan pelayanan dan pengaruhnya terhadap loyalitas konsumen
            3.4  Peningkatan pelayanan sebagai modal utama dalam persaingan antar perusahaan
4. Mempertahankan kualitas pelayanan perusahaan
            4.1  Pelatihan kinerja karyawan di setiap divisi secara berkelanjutan (sustainable)
            4.2  Penetapan standardisasi kualitas pelayanan perusahaan

Sumber :
http://www.carapedia.com

Kamis, 20 Maret 2014

BERPIKIR DAN BERNALAR


Proses Berpikir dan Bernalar

Berpikir merupakan proses dimana seseorang menelaah suatu hal. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya yang berjudul Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer bahwa berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama maka oleh sebab itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang tidak benar itu pun juga berbeda-beda.
Sedangkan hakekat dari penalaran adalah suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang bersifat pengetahuan. Akan tetapi tidak semua kegiatan berpikir mendasarkan diri pada penalaran (Jujun S. Suriasumantri, 2002:43)
Seperti yang kita ketahui bahwa dengan bernalar kita akan memperoleh kesimpulan yang lurus. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sah apabila proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu yang disebut logika. Logika dapat diartikan sebagai ilmu kecakapan untuk berpikir lurus. Akan tetapi Drs. Heru Suharto, S. Fi. mengatakan dalam bukunya yang berjudul Kesesatan-Kesesatan Dalam Penalaran bahwa untuk sampai pada suatu ketepatan bernalar, terdapat rambu-rambu yang sangat perlu diperhatikan agar tidak terjadi kesesatan. Jadi dalam menggunakan logika pun kita harus hati-hati karena apabila logika yang digunakan ternyata tidak sesuai dengan rambu-rambu kebenaran yang ada, maka kita hanya akan memperoleh kesimpulan yang salah.
Proses bernalar meliputi beberapa tahap. Tahapan-tahapan tersebut adalah:
  1. Mengerti, tahap dimana seseorang memahami segala aspek dari objek yang diamati.
  2. Memutuskan, menetapkan kesimpulan sementara berdasarkan fakta-fakta yang ada.
  3. Menyimpulkan, memberikan kesimpulan yang pasti mengenai objek yang diamati setelah fakta-fakta yang ada di uji kembali kebenarannya.
Salah satu contoh sebagai bukti bahwa dengan bernalar kita mampu mengambil kesimpulan yang lurus adalah:
Jika seseorang merasa lapar, maka ia akan melakukan aktifitas yang membuat rasa laparnya hilang. Aktifitas tersebut adalah makan, dan yang dimakan adalah nasi dan lauk-pauknya, bukan pasir atau batu.
Aktifitas yang dilakukan oleh orang tersebut dilakukan setelah dia berpikir dan bernalar dengan logika. Jenis logika yang dia gunakan adalah logika kodratia (secara spontan) dalam hal mengambil tindakan untuk makan, dan logika ilmiah (untuk menghindari kesesatan) dalam hal memilih untuk memakan nasi dan lauk-pauknya daripada memakan pasir dan batu.

Minggu, 29 Desember 2013

PENGARUH STATUS SOSIAL TERHADAP SIKAP SESEORANG


Pada dasarnya setiap manusia dilahirkan sama. Namun,yang membedakan seseorang hanya berdasarkan gender dan status sosial saja. Adakalanya seseorang merasa beruntung karena terlahir dari seseorang yang secara status sosial memiliki penghasilan dan berkehidupan yang lebih dari cukup. Dan sebaliknya, tidak sedikit manusia yang merasa bahwa berkehidupan tidak cukup dan serba kekurangan, sehingga mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang layak seperti orang-orang.
Seiring berkembangnya zaman dan teknologi yang semakin maju, banyak yang salah menyalahgunakan harta dan tahta. Mereka yang mempunyai banyak uang justru menghambur-hamburkannya dengan bersenang-senang dan membeli barang mewah. Semua kebutuhan anggota keluarga mereka akan dipenuhi dengan mudahnya. Dan seorang anak yang berusia dibawah umur pun juga dapat menikmati fasilitas orang tuanya, sepeti gadget, pakaian mahal, dan kendaraan yang berharga sangat fantastis. Tidak dapat dipungkiri, kebebasan yang diberikan orang tua dapat membawa masalah. Tidak sedikit anak yang berusia dibawah umur diizinkan untuk mengendarai kendaraannya sendiri oleh orang tuanya, yang pada akhirnya berakibat pada kecelakaan yang membahayakan diri sendiri dan tentunya merugikan orang lain.
Sebenarnya kembali ke diri sendiri, bahwa pada dasarnya kita harus bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Jika kita diberi harta yang berlebih maka sebaiknya digunakan dengan sebaik-baiknya dan tidak perlu dihambur-hamburkan. Kita harus ingat bahwa diluar sana banyak orang yang lebih membutuhkan dan ada baiknya jika kita bersedekah. Di balik itu kita juga akan mendapatkan pahala jika memberikannya dengan ikhlas. 

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN MANAGER


Perusahaan merupakan salah satu wadah yang didalamnya terdapat karyawan yang bekerja untuk mendapatkan kompensasi. Biasanya didalam perusahaan terdapat berbagai macam jabatan. Pada dasarnya jabatan tersebut telah disesuaikan dengan kemampuan sang karyawannya itu sendiri. Jabatan yang biasanya terdapat dalam perusahaan mulai dari manager, karyawan tetap, dan staff. Tidak dapat dipungkiri bahwa jabatan manager merupakan jabatan yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Karena sang manager yang menghandle semua pekerjaan para karyawannya.
Namun, sering kita temui para manager yang memiliki sikap semaunya,arogan, dan angkuh yang membuat karyawannya tidak nyaman bekerja. Dengan demikian, tidak sedikit karyawan yang mengundurkan diri dari perusahaan karena merasa tidak dihargai dan telah dianggap remeh. Sesungguhnya, tugas manager adalah menghandle pekerjaan para karyawannya dengan memberikan masukan-masukan yang dapat membangun motivasi serta kreatifitas para karyawannya. Karena manager dan karyawan seharusnya mempunyai satu tujuan yang sama yaitu membangun perusahaan agar lebih maju dan berkembang. Dengan demikian, sang manager akan mendapat penghargaan dan para karyawan akan mendapatkan kompensasi, dan jika pekerjaan mereka bagus maka akan naik jabatan.
Perusahaan akan berjalan baik jika orang-orang yang bekerja didalamnya memiliki sikap sportif, jujur, dan bertanggung jawab. Karena dengan sikap sportif maka akan terbangun sikap saling menghargai satu sama lain. Dengan adanya sikap jujur, tidak akan ada pihak yang merasa dirugikan. Dan jika semua orang berkerja dengan penuh tanggung jawab, maka semua pekerjaan akan selesai tepat waktu dan tidak akan terbengkalai.

Kamis, 05 Desember 2013

KEPRIBADIAN NILAI DAN GAYA HIDUP


A.      GAYA HIDUP
Gaya hidup menurut Kotler (2002, p. 192)adalah pola hidup seseorang di dunia yang iekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Gaya hidup menggambarkan seluruh pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi di dunia. Menurut Assael (1984, p. 252), gaya hidup adalah “A mode of living that is identified by how people spend their time (activities), what they consider important in their environment (interest), and what they think of themselves and the world around them (opinions)”.
Secara umum dapat diartikan sebagai suatu gaya hidup yang dikenali dengan bagaimana orang menghabiskan waktunya (aktivitas), apa yang penting orang pertimbangkan pada lingkungan (minat), dan apa yang orang pikirkan tentang diri sendiri dan dunia di sekitar (opini). Sedangkan menurut Minor dan Mowen (2002, p. 282), gaya hidup adalah menunjukkan bagaimana orang hidup, bagaimana membelanjakan uangnya, dan bagaimana mengalokasikan waktu. Selain itu, gaya hidup menurut Suratno dan Rismiati (2001, p. 174) adalah pola hidup seseorang dalam dunia kehidupan sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapat yang bersangkutan. Gaya hidup mencerminkan keseluruhan pribadi yang berinteraksi dengan lingkungan.
Dari berbagai di atas dapat disimpulkan bahwa gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapatnya dalam membelanjakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu. Faktor-faktor utama pembentuk gaya hidup dapat dibagi menjadi dua yaitu secara demografis dan psikografis. Faktor demografis misalnya berdasarkan tingkat pendidikan, usia, tingkat penghasilan dan jenis kelamin, sedangkan faktor psikografis lebih kompleks karena indikator penyusunnya dari karakteristik konsumen.

B.      KEPRIBADIAN DIRI
Berdasarkan psikologi, Gordon Allport menyatakan bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan. Disamping itu kepribadian sering diartikan dengan ciri-ciri yang menonjol pada diri individu, seperti kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”. Kepada orang supel diberikan atribut “berkepribadian supel” dan kepada orang yang plin-plan, pengecut, dan semacamnya diberikan atribut “tidak punya kepribadian”.
Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri, mulai dari yang menunjukkan kepribadian yang sehat atau justru yang tidak sehat. Dalam hal ini, Elizabeth (Syamsu Yusuf, 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat dan tidak sehat, sebagai berikut :

Kepribadian yang sehat

·         Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
·         Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
·         Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
·         Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
·         Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
·         Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)

Kepribadian yang tidak sehat

·         Mudah marah (tersinggung)
·         Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
·         Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
·         Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang
·         Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
·         Kebiasaan berbohong
·         Hiperaktif
·         Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
·         Senang mengkritik/mencemooh orang lain
·         Sulit tidur
·         Kurang memiliki rasa tanggung jawab

Faktor-faktor penentu kepribadian :

·         Faktor keturunan

Keturunan merujuk pada faktor genetika seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau secara substansial, dipengaruhi oleh siapa orang tua dari individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis, dan psikologis bawaan dari individu.

Terdapat tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap argumen bahwa faktor 
keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian seseorang. Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen anak-anak. Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Dasar ketiga meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi.

 

·         Faktor Lingkungan

Faktor lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga, teman, dan kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami. Faktor lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang. Sebagai contoh, budaya membentuknorma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur yang lain

                        Sumber :

MEMPENGARUHI SIKAP DAN PERILAKU


Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu, sedangkan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar. 

Sikap adalah cara menempatkan atau membawa diri, atau cara merasakan, jalan pikiran, dan perilaku. Selain itu, sikap atau attitude adalah suatu konsep paling penting dalam psikologi sosial. Pembahasan yang berkaitan dengan psikologi (sosial) hampir selalu menyertakan unsur sikap baik sikap individu maupun sikap kelompok sebagai salah satu bagian pembahasannya. 

Hubungan sikap dan perilaku pada mata pelajaran Perilaku konsumen yang saya pelajari di smester 5 ini mungkin untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumen mempengaruhi sikap dan perilaku, ataupun sebaliknya sikap dan perilaku mempengaruhi perilaku konsumen. 

Menurut James F. Engel – Roger D. Blackwell – Paul W. Miniard dalam Saladin (2003 : 19) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu : 
  1. Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas. 
  2. Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Perbedaan individu merupkan faktor internal (interpersonal) yang menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima faktor tersebut akan memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses keputusannya.
  3. Proses psikologis, terdiri dari pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku. Ketiga faktor tersebut menambah minat utama dari penelitian konsumen sebagai faktor yang turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam penambilan keputusan pembelian. 
Banyak kajian dilakukan untuk merumuskan pengertian sikap, prose terbentuknya sikap, maupun proses perubahannya. Banyak pula penelitian telah dilakukan terhadap sikap untuk mengetahui efek dan perannya baik sebagai variabel bebas maupun sikap sebagai variabel tergantung Kepercayaan konsumen terhadap suatu produk bahwa produk tersebut memiliki atribut adalah akibat dari pengetahuan konsumen. 

Menurut Mowen dan Minor kepercayaan konsumen adalah pengetahuan konsumen mengenai suatu objek, atributnya, manfaatnya. Pengetahuan tersebut berguna dalam mengkomunikasikan suatu produk dan atributnya kepada konsumen. Sikap menggambarkan kepercayaan konsumen terhadap berbagai atribut tersebut. 

Berikut adalah beberapa karakteristik sikap antara lain : 
  1. Sikap positif, negatif, netral.
  2. Keyakinan sikap.
  3. Sikap memiliki objek.
  4. Konsistensi sikap.
  5. Resistensi sikap. 
Empat fungsi sikap yang bisa digunakan oleh pemasar sebagai metode untuk mengubah sikap konsumen terhadap produk dan atributnya menurut Daniel Katz antara lain : 
  1. Fungsi utilitarian.
  2. Fungsi mempertahankan ego.
  3. Fungsi ekspresi nilai.
  4. Fungsi pengetahuan. 
Pengukuran sikap yang paling populer digunakan oleh para peneliti konsumen adalah model multi atribut yang terdiri dari tiga model : the attittude toward-object model, the attittude toward-behavior model, dan the theory of reasoned-action model. Model ini menjelaskan bahwa sikap konsumen terhadap suatu objek sangat ditentukan oleh sikap konsumen terhadap atribut-atribut yang dievaluasi. Model ini menekankan tingkat kepentingan yang diberikan kosumen kepada suatu atribut sebuah produk. Model sikap lainnya yang juga sering digunakan adalah model sikap angka ideal. Model ini memberikan informasi mengenai sikap konsumen terhadap merek suatu produk sekaligus memberikan informasi mengenai merek ideal yang dirasa suatu produk. Perbedaannya dengan model multi atribut adalah terletak pada pengukuran sikap menurut konsumen. 

Komponen yang secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude) yaitu :

1. Kognitif (cognitive) 

Berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu. 

2. Afektif (affective) 

Menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu. 

3. Konatif (conative) 

Komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi. 

Sikap memiliki beberapa karakteristik, antara lain: arah, intensitas, keluasan, konsistensi dan spontanitas (Assael, 1984 dan Hawkins dkk, 1986). Karakteristik dan arah menunjukkan bahwa sikap dapat mengarah pada persetujuan atau tidaknya individu, mendukung atau menolak terhadap objek sikap. Karakteristik intensitas menunjukkan bahwa sikap memiliki derajat kekuatan yang pada setiap individu bisa berbeda tingkatannya. Karakteristik keluasan sikap menunjuk pada cakupan luas mana kesiapan individu dalam merespon atau menyatakan sikapnya secara spontan. Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu bentuk evaluasi perasaan dan kecenderungan potensial untuk bereaksi yang merupakan hasil interaksi antara komponen kognitif, afektif dan konatif yang saling bereaksi didalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap suatu objek. 

SUMBER :


http://linieasmara3ea17.blogspot.com/2012/11/mempengaruhi-sikap-dan-perilaku.html